Sel punca atau stemcell sangat bermanfaat dalam bidang kesehatan. Selain mampu untuk berkembang menjadi berbagai jenis sel-sel yang spesifik untuk menciptakan jaringan tubuh, sel ini juga mampu berubah menjadi berbagai jenis sel matang yang khas, bisa beregenerasi sendiri, dan pada dasarnya merupakan blok pembangun pada tubuh manusia.
Hasilnya, berbagai masalah kesehatan khususnya penyakit degeneratif yang sangat merugikan pada organ tulang, sel otot, sel saraf, sel darah merah, atau sel otak pun bisa disembuhkan. Selain sel punca itu sendiri, produk metabolitnya juga memiliki kandungan berbagai faktor pertumbuhan untuk menunjang regenerasi jaringan dan fungsi organ.
Melihat potensi yang positif ini, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang bekerjasama dengan PT. Kimia Farma berencana untuk mengusung proyek pendirian Pusat Produksi Sel Punca dan Produk Metabolit Nasional (PPSPPMN). Lembaga ini akan diresmikan Menteri Riset Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, pada Selasa 17 Desember 2019 di Ruang Senat Akademik Fakultas, FKUI, Salemba, Jakarta.
Harapannya, pusat produksi sel punca ini bisa menjadi terobosan dan inovasi bagi Indonesia. Saat ini, Indonesia menjadi salah satu negara yang sudah melakukan pelayanan terapi sel punca bagi pasien umum di berbagai rumah sakit, sedangkan beberapa negara lain tidak memilikinya. Sehingga nanti, kegiatan ini bisa meningkatkan potensi adanya medical tourism karena kedepannya pelayanan terapi sel punca bagi pasien umum ini tidak hanya untuk bagi pasien dalam negeri, tetapi juga pasien dari mancanegara.
Pusat produksi sel punca ini juga diharapkan mampu memproduksi berbagai jenis sel punca, baik autogenik maupun autologus, serta produk metabolit sel punca yang teregistrasi dan dapat diproduksi secara massal serta dikomersialisasikan. Hal ini sejalan dengan upaya mewujudkan kemandirian dan meningkatkan daya saing industri farmasi dan alat kesehatan dalam negeri melalui percepatan pengembangan industri farmasi dan alat kesehatan hasil inovasi anak bangsa.
Hingga saat ini sudah lebih dari 300 orang pasien yang dilakukan terapi sel punca yang dibiayai dari berbagai hibah kompetitif senilai lebih dari Rp 36 miliar. Ke depannya, penelitian sel punca akan dikembangkan untuk pengobatan gagal ginjal akut, nerve regeneration, demensia, alzheimer dan penyakit-penyakit yang tidak lagi memberi respon dengan pengobatan konvensional lainnya
(https://gaya.tempo.co/read/1284444/rscm-dan-kimia-farma-segera-dirikan-pusat-produksi-sel-punca/full&view=ok)
Stem cell atau sel punca kini digadang-gadang dapat menjadi metode pengobatan terkini untuk beragam penyakit. Pasalnya, sel punca dapat meregenerasi sel-sel yang rusak penyebab berbagai penyakit. Beberapa penyakit yang disinyalir dapat disembuhkan dengan metode ini berdasarkan penelitian, antara lain penyakit jantung, diabetes, stroke, kebutaan karena glukoma, pengapuran sendi, hingga kaki diabetik. Disampaikan Dr. dr. Cosphiadi Irawan, SpPD-KHOM, dari FKUI RSCM, sel punca sendiri bisa didapat dari tubuh pasien maupun orang lain. Bagian tubuh yang bisa dijadikan sumber sel punca, kata dia, adalah darah tali pusat, sumsum tulang belakang hingga lemak. "Nah, untuk mengambil dan menyimpan sel punca ini ada protokolnya. Jadi nggak bisa sembarangan. Siapa yang melakukan implantasi sel punca dan laboratoriumnya seperti apa itu harus ada rambu-rambunya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," ujar dr Cosphiadi Irawan pada temu media di FKUI RSCM di Jakarta. Dari se...
Komentar
Posting Komentar